Home >> Mbahmania >> Frediansyah Firdaus: Berawal dari Cinta Menulis, dan Kini Semakin Cinta
Frediansyah Firdaus

Frediansyah Firdaus: Berawal dari Cinta Menulis, dan Kini Semakin Cinta

Perkenalkan nama saya Frediansyah Firdaus, S.Pt. Kalau dilihat dari gelar si gak ada nyambung-nyambungnya dengan menulis, he he he. Saya lulusan Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor jurusan Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan dengan Minor Statistika Terapan pada Fakultas MIPA IPB.

Menulis bisa dibilang telah menjadi hobi saya, meskipun jujur gak ada basic menulis, tapi yang penting coba untuk nulis dan nulis.

Bergabung dengan LDII Network News (LINES)

Tim Lines
Tim Lines

Waktu itu ceritanya LDII memberikan tempat kepada anak-anak muda yang bersedia untuk dilatih menjadi jurnalis DPP LDII. Tepatnya dibawah binaan Departemen Komunikasi Informasi dan Media Masa (KIM) dengan Kadep mas M Ied dan Trainer mas Ludhy Cahyana.

Mulai lah saat itu kami berlatih dan berlatih. Waktu itu saya masih kuliah di IPB semester akhir-akhir banget (kalau tidak salah semester 9). Bisa dibilang saya belum menemukan hasrat di dunia peternakan.

Ada dua hobi yang saya miliki, pertama matematika dan kedua menulis. Nah, untuk metematika saya salurkan dengan mengambil minor Statistika Terapan di IPB. Lantas kalau hobi menulis?

Ini dia, pada dasarnya saya ingin sekali menghayati dunia peternakan, tapi kok belum bisa-bisa yaaa. Nanti kalau lulus kuliah saya jadi apa pikir saya, kalau dunia perkuliahan yang saya geluti saja tak saya sukai.

Alhasil, saya coba berkelana. Ada dua jalur yang saya tempuh, berkelana di dunia peternakan dan berkelana di dunia LINES. He he he

Oke sekarang kembali ke dunia LINES. Berbicara LINES, kita dahulu berlatih setiap senin siang (kalau gak salah) di Kantor DPP LDII Patal, Senayan, Jakarta.

Setiap minggu berarti saya harus PP Bogor-Jakarta demi dunia ini. Bagi saya, ini tak masalah. Karena memang sangat saya cintai.

Hasilnya, kemampuan menulis saya sadari masih nol besar. Mungkin mas Ludhy pusing dengan hasil tulisan saya, he he he. Banyak sekali pembenahan dan teguran, mulai dari tanda baca, hingga sinkronisasi antara lead dengan isi tulisan.

Bisa dibayangkan bagaimana pusingnya mas Ludhy melatih kami?, ahahah.. eh, mungkin lebih tepatnya pusingnya melatih saya.

Tapi saya berbicara kepada diri saya, saya harus bisa. Meskipun cuma modal cinta, dengan basic skill yang kurang saya harus bisa bangkit. Maksudnya terus membenahi, terus membenahi.

Saya pun dengan seksama coba terus membandingkan antara tulisan yang saya setor dengan hasil revisi dari mas Ludhy, setiap selesai liputan saya perhatikan benar dimana kesalahan saya.

Hasilnya pertama-tama saya perhatikan sampai 50% tulisan saya dibenahi. Sampi turun terus hingga 20% saja. Ahahahah.. Masih jauh sih, terutama masalah tanda baca. Kalau gak lagi nulis berita, ya nulis semaunya saja, he he he..

Terpenting point nya, jangan menyerah, terlebih ketika dibantai, wajar tulisan kita di evaluasi agar skill kita semakin meningkat.

Alhasil sedikit demi sedikit, saya senang ketika tulisan saya yang terkoreksi semakin menurun. Artinya ada peningkatan, he he he.

Mulai lah, saya liputan beragam kegiatan DPP, mulai dari kegiatan yang ada di DPP hingga kegiatan liputan di luar, misalnya saja ke Indramayu dan lokasi lainnya.

Mengikuti Ekspedisi Bhakesra (2014 dan 2015) rute Sulawesi – Maluku – Papua

Bersama anak-anak di Sulawesi saat bhakesra
Bersama anak-anak di Sulawesi saat bhakesra

Nah, ini dia kegiatan yang bagi saya sangat mengasah skill menulis. Bagaimana tidak, dengan kondisi yang minimal. Listrik kurang, signal internet lemah, kegiatan banyak, tapi kita diminta untuk aktif menyetor tulisan.

Dalam ekspedisi ini, kita berlayar dengan menggunakan Kapal Perang, dan harus siap sedia pula membantu menurunkan barang bantuan. Berarti kita harus siapkan fisik lebih, mulai dari membantu segala yang diperlukan tapi harus tetap fokus dapat mengambil gambar dan konsen menulis.

Tuntutan tulisan yang berkualitas dengan kuantitas tertentu mengharuskan saya fokus dalam melakukan peliputan. Kondisi tubuh pun musti dijaga ketat, jangan sampai moment penting hilang karena kita tidak enak badan.

Persiapan peralatan pun harus benar-benar oke. Mulai dari sekedar mencharger kamera, laptop hingga tab yang saat itu menjadi andalan saya.

Tulisan dan foto pun bayak disetor lewat whatsapp. Karena mengandalkan email, signal internet tak kuat. Whatsapp saja menunggu lama baru terkirim.

Tapi hikmahnya, kegiatan ini benar-benar melatih diri kita untuk semakin baik dalam membuat tulisan, mengurangi karakter moody, dan pintar mensiasati kondisi walau susah.

Jangan berpikir kondisi yang tak enak, tapi kita harus bisa menyamankan kondisi yang ada. Bagaimana tidak, waktu itu di Maluku, di Raja Ampat, listrik hanya hidup setengah hari. Mengambil foto pun harus benar-benar kita pilah penting atau tidak. Jangan sampai moment penting hadir, tapi baterai sudah habis. Sehingga moment hilang begitu saja.

Pulang ke Lampung

Beberapa waktu usai lulus kuliah, saya sempat tidak aktif melakukan peliputan sekitar beberapa bulan. Waktu itu saya ditawari pekerjaan menjadi Asisten Manajer di salah satu perusahaan di Lampung. Mengelola sapi lokal yang berintegrasi dengan pakan yang berasal dari limbah perkebunan. Waktu itu menggarap 600 ekor sapi lokal plus pabrik pakan dan pengolahan limbah.

Tak bertahan lama, dengan kerinduan dunia tulis menulis. Saya kurang betah dengan kondisi lapangan. Terlebih waktu itu, Manajer sedang resign sehingga mengharuskan saya menjalankan peran Manajer di perusahaan tersebut.

Bagi saya, ini tugas berat yang harus saya lakukan. Tapi saya harus bisa meskipun terseok-seok. Sampai satu titik, saya pun memutuskan resign.

Alasan lainnya, karena saya juga harus mengabdi sebagai konsekwensi beasiswa yang saya peroleh. Dimana setelah lulus saya harus mengabdikan diri saya di Pondok asal saya berada. Kalau gak mengabdi, ijazah di tahan, he he he.

Sekitar 4 bulan di perusahaan tersebut, saya pun resign dan mendaftar wisuda. Usai wisuda saya mulailah mengabdi di Ponpes awal saya menimba ilmu. Ponpes Nurul Huda Lampung.

Mendapati hal ini, dengan kerinduan dunia tulis menulis dan kenyamanan yang saya peroleh dalam mengabdi. Saya pun bersama teman-teman blogger Lampung (Sandi dan Rizky) merekomendasikan DPW untuk mengaktifkan tim IT (waktu itu penyebutannya) berkolaborasi dengan tim Konten. Layaknya role LINES di DPP.

Ya aslinya Sandi mendapat tugas untuk mengaktifkan website DPW LDII Lampung, cuma masih kurang personil, he he he

Kami pun mengundang teman-teman yang suka menulis untuk mengaktifkan website LDII Lampung yang beralamat di www.ldiilampung.com.

Akhirnya kini website ini telah memiliki 181 artikel dengan jumlah tim redaksi berjumlah 8 orang termasuk saya.

Kami pun membangun tim ini agar terus aktif untuk menuangkan tulisannya dan membantu mempublikasikan beragam kegiatan yang ada di lingkup LDII Lampung.

Alhamdulillah kini, tim ini sudah semakin solid dan semakin baik. Juga mampu membantu tim LINES Lampung untuk mempublikasikan beragam kegiatan yang ada. Meskipun masih banyak sekali ditemui kekurangan.

NHNeT (Nurul Huda Network News)

Tim Jurnalis Nurul Huda Network News Lampung
Tim Jurnalis Nurul Huda Network News Lampung

Selain LINES Lampung, saya juga coba mengaktifkan aktivitas jurnalis di lingkup Yayasan Nurul Huda Lampung. Dengan berbekal tim anak-anak pondok, kami menjaring anak yang bersedia mengikuti pelatihan jurnalis dengan trainer kami datangkan dari kalangan profesional jurnalis di Lampung.

Alhamdulillah ketika dibuka pendaftaran, animo nya cukup besar. Ada 80 pendaftar dan kita saring menjadi 10 pendaftar.

Kami pun bersama-sama terus berlatih dan memperkuat diri agar tim jurnalis ini dapat berkarya secara profesional. Profesional bukan berarti masalah uang, tapi masalah informasi dan publikasi dari Yayasan yang dapat kami coba sebarkan melalui berbagai media yang dibuat. Dan tentunya mereka mendapatkan wadah positif agar tak terbawa hal-hal yang negatif.

Ada tiga media yang kami coba jalankan, TV (NH.TV=masih off line), majalah (Tri Sukses Magazine) dan website (nurulhudalampung.com).

Untuk website ini, ya namanya gak tau IT, jadi ya pertamanya coba aja buat pakai wordpress, eeee.. sering kena spam dan website sering down. Akhirnya pindah deh ke blogger, dan sampai saat ini masih merangkak. Coba mengisi lagi sedikit demi sedikit atas kegiatan yang ada di lingkup Yayasan. He he he.

Bagi saya, bersama mereka seperti merasakan kehidupan lain yang sangat membahagiakan. Karena bersama orang-orang yang satu visi misi untuk kebaikan bersama. Untuk mensukseskan citizen journalism.

Inilah yang ada dipikiran saya ketika mengaktifkan beberapa tim ini. Selain menyalurkan hobi, bisa berkumpul dan juga meningkatkan kemampuan, karena dari mereka saya banyak belajar.

Satu hal, saat ini anak muda harus diberikan wadah untuk berkreasi. Agar pikiran tak terbawa kepada hal-hal negatif, sehingga point-point positif yang akan terbenak di kepala mereka.

Alhasil, selain menyalurkan hobi, mereka pun bisa mendapatkan wadah positif untuk berkreasi. Sehingga apa yang saya bisa dan saya miliki bisa bermanfaat, tak hanya diri namun pula untuk masyarakat secara luas. Disinilah saya mereka semakin hidup, dan bersyukur kembali ketempat pengabdian. Merasakan sebuah pengabdian yang sebenarnya, dan kenyamanan hati bersama mereka.

Akhir kata adanya Program Beasiswa Santri Berprestasi dari Kementrian Agama RI, dimana saya memperoleh dana kuliah dari beasiswa ini, saya merasakan kurub dalam menjalankah kehidupan. Khusus, saya haturkan banyak sekali kesyukuran dan rasa terimakasih bagi Kemenag, bagi rakyat Indonesia. Mudah-mudahan saya bisa membalas semua yang telah saya peroleh ini.

Bismillah….

Other articles you might like;

About Ali Mustika Sari

Blogger Manshurin yang ingin mendunia lewat blog dan tulisan yang sederhana. Walaupun orang desa tapi tak putus asa untuk selalu belajar dan bekerja keras serta cerdas.

Check Also

Topologi Zero Client Sunde

Sunde, Perangkat yang Buat Anda Lebih Hemat Listrik

Sunde merupakan sebuah perangkat Zero atau Ultra Thin Client yang memungkinkan satu PC dapat digunakan …